Mengapa jika mesin kendaraan bermotor
tiba-tiba mati di lintasan rel kereta api sulit
dihidupkan lagi ?
Ternyata itu disebabkan adanya pengaruh
gesekan antara roda kereta dengan relnya.
“Jadi, bukan semata-mata karena sopirnya gugup sehingga tidak bisa menghidupkan mesin
kendaraannya, ” kata Dr Ir. Djoko Sungkono,
kepala Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin
Institut Teknologi Surabaya (ITS). Selama ini sering terjadi kendaraan bermotor
tiba-tiba mati mesinnya saat melintas di atas
rel kereta api. Itu terjadi terutama ketika ada
kereta yang mau lewat. Pengendaranya
kesulitan menghidupkan kembali mesin
kendaraannya itu. Akibatnya, kendaraan bermotor itu ditabrak kereta dalam hitungan
sekian puluh detik berikutnya. seperti yang dialami Rektor dan Pembantu Rektor III Universitas Islam Darul Ulum Lamongan pada tahun 2007. Keduanya tewas
karena mobil yang sedang melintas rel
dihantam kereta api. Djoko lalu mengingatkan,
jika mesin mobil tiba-tiba mati di atas rel, maka hendaknya penumpangnya segera keluar
dan mendorongnya . Jika tidak, akan sangat
membahayakan jika kereta segera lewat. Dan
jangan berusaha menghidupkan mesin! Yang
anda lakukan adalah, keluar! dan
mendorongnya! Kalaupun anda gak sempat mendorong, setidaknya anda sudah berada
diluar kendaraan dan bisa sewaktu-waktu lari
menghindar. Mengapa mesin bermotor susah dihidupkan?
Kata Djoko, terjadi impedansi yang
ditimbulkan oleh pergesekan roda kereta api
dan relnya. Dan, impedansi itu yang cukup untuk
mengakibatkan mesin mobil yang mati sulit
menyala kembali. Kejadian itu terutama berpengaruh pada mobil atau kendaraan yang
berbahan bakar bensin, meskipun kendaraan
berbahan bakar solar juga ada yang
terpengaruh. “Pada kendaraan yang berbahan
bakar bensin, starternya digerakkan oleh
dinamo,” paparnya. Dari dinamo ini dihasilkan medan magnet yang selanjutnya
menggerakkan mesin motor/mobil. Djoko
mengatakan, hal tersebut tidak jadi masalah
bila mesin motor/mobil tersebut tidak mati. Namun bila mesin tersebut mati maka akan sulit untuk dihidupkan lagi. Medan impedansi tersebut tidak memerlukan jarak yang dekat untuk terjadi ipedensi. Hal tersebut sudah mulai dapat berpengaruh ketika
kereta api masih berjarak 1,5 km lokasi
lintasan di mana kendaraan bermotor itu
melintas rel.
Tips :
Jadi langkah terbaik yang harus dilakukan :
dorong kendaraan ( kalau mobil, segera keluar
dari kendaraan anda) dari rel kereta baru
setelah itu coba hidupkan kembali mesin mobil
anda
Sumber:wordpress
Wednesday, August 22, 2012
Sunday, August 12, 2012
KERJA DALAM SATU TEAM
Kecakapan atau skill, adalah sesuatu yang mutlak diperlukan dalam memimpin suatu
team work, Tapi kita juga perlu menyadari bahwa disamping skill atasan, masih ada hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh seorang atasan dalam upaya memimpin, mengarahkan memotivasi dan menumbuhkan semangat kerja bawahannya. Dan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi team, terutama sangat tergantung pada perilaku atasan dalam memimpin. Dalam hal ini, banyak usaha-usaha atau trik- trik atasan untuk menggerakkan bawahannya, tentunya dengan harapan agar tujuan bisa dicapai dan atasan mendapatkan tempat yang terhormat di hati bawahannya. Dibawah ini, ada beberapa tips untuk atasan dalam memimpim bawahan
1. Disiplin . Jangan meremehkah yang satu ini, karena kerja team adalah sebuah sistem yang di dalamnya ada ketergantungan satu sama lain, maka ketidak disiplinan yang mengakibatkan kesalahan pada satu bagian akan mengganggu bagian yang lain dan menghambat tercapaianya tujuan. Menjadi sangat tidak terhormat apabila kesalahan sebagai akibat kurang disiplin itu justru dilakukan atasan,
2. Belajar dan terus belajar. Jangan pernah dihinggapi perasaan bahwa “atasan paling pintar”, atasan mungkin punya kelebihan di satu sisi, tapi di sisi lain pasti
masih ada kekurangan, jadi tidak ada atasan yang sempurna. Dalam kondisi seperti ini, kita jangan malu atau merasa rendah untuk belajar dan menimba pengetahuan dari bawahan, seorang bawahan justru akan menghormati atasan apabila atasan mau mendegar apa yang disampaikan bawahan.
3. Pandai mengatur emosi. Mengendalikan emosi memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi sebagai atasan tetap harus mampu mengontrol emosi, jangan pernah memarahi, memaki, dan menegur bawahan di depan bawahan yang lain (apalagi di depan umum), ini bukan sikap atasan yang bijak, sikap seperti ini justru
akan kontra produktif, bawahan merasa tertindas, di hina, diperlakukan semena- mena, diperbudak, dan akibatnya bisa menurunkan semangat kerja mereka. Akan lebih bijak apabila, dia di panggil dalam ruangan, lalu disampaikan kesalahannya dan akibat-akibat yang ditimbulkan, tentu dengan harapan kesalahan itu tidak diulang di waktu- waktu berikutnya.
4. Obyektif Jangan pilih kasih, perlakukan bawahan dengan cara yang sama, jangan pernah menganaktirikan bawahan, team work harus dikelola secara profesional, dengan begitu sikap bijak atasan akan tampak jelas. Bangun karakter bawahan dengan menampakkan kelebihan kelebihannya, karena hal itu bisa menambah motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan.
5. Jalin hubungan kekeluargaan Jalinan hubungan seperti ini sering kali mampu menyentuh hati karyawan, perlu diingat bahwa mereka adalah juga manusia biasa yang punya hati nurani. Rasa empati kita terhadap bawahan akan mampu menumbuhkan rasa hormat mereka. Jangan pernah menutup diri dari bawahan, jangan pernah merasa gengsi untuk bergabung dengan bawahan di semua level, dan jangan pernah merasa tersaingi oleh bawahan. Dengan begitu, atasan telah mampu menjadi sahabat yang bernilai positif bagi karyawan.
6. Rayakan keberhasilan. Harus disadari, bahwa kesuksesan suatu team work adalah kesuksesan kelompok, dan setiap bagian dari kelompok harus merasakan keberhasilan itu, sehingga sekecil apapun keberhasilan itu tetap upayakan untuk dirayakan, meskipun dengan cara sederhana (misalnya, makan bersama, minum bersama, dsb), dan atasan harus ada ditengah-tengah mereka, hal ini penting untuk menjaga semangat kerja mereka. Demikian, semoga bermanfaat. Salam……….
Sumber:http://rajinbekerja.com/kepemimpinan/
team work, Tapi kita juga perlu menyadari bahwa disamping skill atasan, masih ada hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh seorang atasan dalam upaya memimpin, mengarahkan memotivasi dan menumbuhkan semangat kerja bawahannya. Dan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi team, terutama sangat tergantung pada perilaku atasan dalam memimpin. Dalam hal ini, banyak usaha-usaha atau trik- trik atasan untuk menggerakkan bawahannya, tentunya dengan harapan agar tujuan bisa dicapai dan atasan mendapatkan tempat yang terhormat di hati bawahannya. Dibawah ini, ada beberapa tips untuk atasan dalam memimpim bawahan
1. Disiplin . Jangan meremehkah yang satu ini, karena kerja team adalah sebuah sistem yang di dalamnya ada ketergantungan satu sama lain, maka ketidak disiplinan yang mengakibatkan kesalahan pada satu bagian akan mengganggu bagian yang lain dan menghambat tercapaianya tujuan. Menjadi sangat tidak terhormat apabila kesalahan sebagai akibat kurang disiplin itu justru dilakukan atasan,
2. Belajar dan terus belajar. Jangan pernah dihinggapi perasaan bahwa “atasan paling pintar”, atasan mungkin punya kelebihan di satu sisi, tapi di sisi lain pasti
masih ada kekurangan, jadi tidak ada atasan yang sempurna. Dalam kondisi seperti ini, kita jangan malu atau merasa rendah untuk belajar dan menimba pengetahuan dari bawahan, seorang bawahan justru akan menghormati atasan apabila atasan mau mendegar apa yang disampaikan bawahan.
3. Pandai mengatur emosi. Mengendalikan emosi memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi sebagai atasan tetap harus mampu mengontrol emosi, jangan pernah memarahi, memaki, dan menegur bawahan di depan bawahan yang lain (apalagi di depan umum), ini bukan sikap atasan yang bijak, sikap seperti ini justru
akan kontra produktif, bawahan merasa tertindas, di hina, diperlakukan semena- mena, diperbudak, dan akibatnya bisa menurunkan semangat kerja mereka. Akan lebih bijak apabila, dia di panggil dalam ruangan, lalu disampaikan kesalahannya dan akibat-akibat yang ditimbulkan, tentu dengan harapan kesalahan itu tidak diulang di waktu- waktu berikutnya.
4. Obyektif Jangan pilih kasih, perlakukan bawahan dengan cara yang sama, jangan pernah menganaktirikan bawahan, team work harus dikelola secara profesional, dengan begitu sikap bijak atasan akan tampak jelas. Bangun karakter bawahan dengan menampakkan kelebihan kelebihannya, karena hal itu bisa menambah motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan.
5. Jalin hubungan kekeluargaan Jalinan hubungan seperti ini sering kali mampu menyentuh hati karyawan, perlu diingat bahwa mereka adalah juga manusia biasa yang punya hati nurani. Rasa empati kita terhadap bawahan akan mampu menumbuhkan rasa hormat mereka. Jangan pernah menutup diri dari bawahan, jangan pernah merasa gengsi untuk bergabung dengan bawahan di semua level, dan jangan pernah merasa tersaingi oleh bawahan. Dengan begitu, atasan telah mampu menjadi sahabat yang bernilai positif bagi karyawan.
6. Rayakan keberhasilan. Harus disadari, bahwa kesuksesan suatu team work adalah kesuksesan kelompok, dan setiap bagian dari kelompok harus merasakan keberhasilan itu, sehingga sekecil apapun keberhasilan itu tetap upayakan untuk dirayakan, meskipun dengan cara sederhana (misalnya, makan bersama, minum bersama, dsb), dan atasan harus ada ditengah-tengah mereka, hal ini penting untuk menjaga semangat kerja mereka. Demikian, semoga bermanfaat. Salam……….
Sumber:http://rajinbekerja.com/kepemimpinan/
Monday, July 30, 2012
"Ketika Seorang Pemimpin Tidak Membela Dan Berjuang Untuk Orang-Orang Yang Dia Pimpin''
"Ketika Seorang Pemimpin Tidak
Membela Dan Berjuang Untuk
Orang-Orang Yang Dia Pimpin,
Maka Dia Akan Kehilangan
Kekuatan Dan Pengaruh Untuk
Memimpin Secara Efektif." ~ Djajendra TUGAS UTAMA SEORANG PEMIMPIN ADALAH
BERJUANG UNTUK ORANG LAIN "Ketika Seorang Pemimpin Tidak Membela
Dan Berjuang Untuk Orang-Orang Yang Dia
Pimpin, Maka Dia Akan Kehilangan
Kekuatan Dan Pengaruh Untuk Memimpin
Secara Efektif." ~ Djajendra Pemimpin atau manajer yang berkualitas
selalu memiliki keberanian dan kemampuan
untuk membela karyawan atau orang-
orang yang dia pimpin. Dan hal ini,
biasanya, akan meningkatkan loyalitas,
rasa percaya diri, kontribusi, semangat kerja, dan tanggung jawab dari orang-
orang yang dipimpin. Sebab, mereka sadar
akan ketulusan, empati dan kebaikan
pemimpinnya dalam membela mereka.
Pemimpin yang cerdas akan membela
karyawannya melalui kekuatan nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi kesepakatan
untuk dijalankan bersama. Dan selalu
melakukan analisa situasi untuk menilai
risiko sebelum menentukan tindakan
membela, agar pembelaan terhadap
karyawan tepat sasaran, dan tidak asal membela. Apalagi saat karyawan membuat
kesalahan dan bekerja dengan kinerja yang
buruk, maka pemimpin seharusnya tidak
boleh langsung menyalahkan atau membela,
tapi wajib mengambil langkah yang tegas
dan tepat untuk memperbaiki kesalahan dan kinerja buruk tersebut, kemudian
membangun kesadaran dan motivasi, agar
karyawan tersebut dapat berubah untuk
menciptakan hal-hal terbaik buat
perusahaan.
Ketika pemimpin menunjukkan perilaku bahwa dia sebagai pemimpin selalu setia
untuk berada di pihak karyawan, dan selalu
memberikan bantuan ketika karyawan
membutuhkan bantuan; maka, hal ini akan
memberikan dorongan keyakinan kepada
karyawan untuk berprestasi dan berkarya buat meningkatkan kinerja kepemimpinan
dan perusahaan.
Membela karyawan berarti menyadarkan
mereka terhadap semua tanggung jawab
yang harus dikerjakan. Pemimpin harus
berdiri dibarisan paling depan untuk memastikan bahwa setiap karyawan
memiliki kompetensi dan mental untuk
melakukan pekerjaan mereka secara
efektif.
Pemimpin harus selalu mengawasi standar
perilaku kerja yang harus dijalankan oleh karyawan. Bila ada karyawan yang secara
serius melanggar standar kerja, maka
pemimpin harus mengingatkan bahwa
mereka telah melanggar misi utama
organisasi. Dan kemudian, pemimpin harus
mengeksplorasi perilaku yang ada, lalu menyadarkan setiap karyawan untuk tidak
bertentangan dengan nilai-nilai dari
standar perilaku kerja.
Pemimpin harus selalu menjelaskan alasan
dirinya berjuang untuk membantu dan
membela karyawan. Setiap pembelaan dan bantuan terhadap karyawan sangat
terkait kepada tanggung jawab pemimpin
untuk bertindak secara adil, tegas, terbuka,
dan penuh empati.
Bila ada karyawan dengan sistem
keyakinan pribadi yang selalu bertentangan dengan nilai-nilai budaya
perusahaan dan standar perilaku kerja,
maka pemimpin perlu mempertimbangkan
untuk mempertahankan hubungan kerja
tersebut. Sebab, ketika seorang karyawan
sudah tidak patuh pada budaya perusahaan dan standar perilaku kerja di perusahaan,
maka dia akan sulit berkomunikasi melalui
nilai-nilai budaya perusahaan, dan juga
sudah pasti tidak mampu bersikap dan
bekerja secara profesional.
Pemimpin harus membantu dan membela setiap karyawan tanpa pilih kasih, harus
menjadi pemimpin yang membawa
kehormatan dan keberuntungan untuk
untuk semua orang dalam tim. Tapi, semua
pembelaan dan bantuan harus didasarkan
kepada kredibilitas dan reputasi karyawan dalam menjalankan nilai-nilai dan standar
perilaku kerja dengan sempurna.
Membela Dan Berjuang Untuk
Orang-Orang Yang Dia Pimpin,
Maka Dia Akan Kehilangan
Kekuatan Dan Pengaruh Untuk
Memimpin Secara Efektif." ~ Djajendra TUGAS UTAMA SEORANG PEMIMPIN ADALAH
BERJUANG UNTUK ORANG LAIN "Ketika Seorang Pemimpin Tidak Membela
Dan Berjuang Untuk Orang-Orang Yang Dia
Pimpin, Maka Dia Akan Kehilangan
Kekuatan Dan Pengaruh Untuk Memimpin
Secara Efektif." ~ Djajendra Pemimpin atau manajer yang berkualitas
selalu memiliki keberanian dan kemampuan
untuk membela karyawan atau orang-
orang yang dia pimpin. Dan hal ini,
biasanya, akan meningkatkan loyalitas,
rasa percaya diri, kontribusi, semangat kerja, dan tanggung jawab dari orang-
orang yang dipimpin. Sebab, mereka sadar
akan ketulusan, empati dan kebaikan
pemimpinnya dalam membela mereka.
Pemimpin yang cerdas akan membela
karyawannya melalui kekuatan nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi kesepakatan
untuk dijalankan bersama. Dan selalu
melakukan analisa situasi untuk menilai
risiko sebelum menentukan tindakan
membela, agar pembelaan terhadap
karyawan tepat sasaran, dan tidak asal membela. Apalagi saat karyawan membuat
kesalahan dan bekerja dengan kinerja yang
buruk, maka pemimpin seharusnya tidak
boleh langsung menyalahkan atau membela,
tapi wajib mengambil langkah yang tegas
dan tepat untuk memperbaiki kesalahan dan kinerja buruk tersebut, kemudian
membangun kesadaran dan motivasi, agar
karyawan tersebut dapat berubah untuk
menciptakan hal-hal terbaik buat
perusahaan.
Ketika pemimpin menunjukkan perilaku bahwa dia sebagai pemimpin selalu setia
untuk berada di pihak karyawan, dan selalu
memberikan bantuan ketika karyawan
membutuhkan bantuan; maka, hal ini akan
memberikan dorongan keyakinan kepada
karyawan untuk berprestasi dan berkarya buat meningkatkan kinerja kepemimpinan
dan perusahaan.
Membela karyawan berarti menyadarkan
mereka terhadap semua tanggung jawab
yang harus dikerjakan. Pemimpin harus
berdiri dibarisan paling depan untuk memastikan bahwa setiap karyawan
memiliki kompetensi dan mental untuk
melakukan pekerjaan mereka secara
efektif.
Pemimpin harus selalu mengawasi standar
perilaku kerja yang harus dijalankan oleh karyawan. Bila ada karyawan yang secara
serius melanggar standar kerja, maka
pemimpin harus mengingatkan bahwa
mereka telah melanggar misi utama
organisasi. Dan kemudian, pemimpin harus
mengeksplorasi perilaku yang ada, lalu menyadarkan setiap karyawan untuk tidak
bertentangan dengan nilai-nilai dari
standar perilaku kerja.
Pemimpin harus selalu menjelaskan alasan
dirinya berjuang untuk membantu dan
membela karyawan. Setiap pembelaan dan bantuan terhadap karyawan sangat
terkait kepada tanggung jawab pemimpin
untuk bertindak secara adil, tegas, terbuka,
dan penuh empati.
Bila ada karyawan dengan sistem
keyakinan pribadi yang selalu bertentangan dengan nilai-nilai budaya
perusahaan dan standar perilaku kerja,
maka pemimpin perlu mempertimbangkan
untuk mempertahankan hubungan kerja
tersebut. Sebab, ketika seorang karyawan
sudah tidak patuh pada budaya perusahaan dan standar perilaku kerja di perusahaan,
maka dia akan sulit berkomunikasi melalui
nilai-nilai budaya perusahaan, dan juga
sudah pasti tidak mampu bersikap dan
bekerja secara profesional.
Pemimpin harus membantu dan membela setiap karyawan tanpa pilih kasih, harus
menjadi pemimpin yang membawa
kehormatan dan keberuntungan untuk
untuk semua orang dalam tim. Tapi, semua
pembelaan dan bantuan harus didasarkan
kepada kredibilitas dan reputasi karyawan dalam menjalankan nilai-nilai dan standar
perilaku kerja dengan sempurna.
Subscribe to:
Posts (Atom)